Belajar mengaji idgham bighunnah – Membaca Al quran sesuai kaidah tajwid hukumnya wajib. Meskipun membaca satu huruf Al quran bernilai sepuluh kebaikan. Oleh karena itu, pentingya kita untuk memperdalam khazanah keilmuan Al quran yang dibina langsung oleh guru ngaji Al quran yang mumpuni di bidangnya. Seperti belajar tajwid idgham bighunnah, tidak hanya sebatas Ya, Nun, Mim, Wau.
( ،ي، ن، م، و )
belajar mengaji idgham bighunnah
Apa itu tajwid? Tajwid merupakan Ilmu yang membahas panjang pendek, makhroj sifat, waqaf ibtida, empat tingkatan membaca Al quran, dan dua kesalahan yakni lahn jaliy (kesalahan yang jelas) dan lahn kahfi (kesalahan yang samar). Sedangkan secara bahasa maknanya membaguskan bacaan.
Pengertian Idgham Bighunnah
Idgham secara bahasa maknanya memasukkan atau meleburkan suatu bacaan tertentu. Sedangkan bighunnah maksudnya membaca huruf tertentu dengan dengung.
Adapun pengertian secara menyeluruh idgham bighunnah adalah: Meleburkan bacaan ke huruf selanjutnya yang disertai dengung dua harakat tempo lambat. Dengan kata lain, apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah salah satu huruf yang empat; Ya, Nun, Mim, Wau.
( ،ي، ن، م، و )
Contoh Nun Sukun نْ
Nun sukun ketemu ya` di QS Al Zalzalah : 7
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ
Nun sukun ketemu wau
مِنْ وَرَائِهِمْ
Contoh Tanwin ( fathahtain, kasrahtain, dhammahtain)
Tanwin ( kasrahtain) bertemu dengan huruf ya` di QS Al Zalzalah : 6
يَوْمَىِٕذٍ يَّصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا ەۙ لِّيُرَوْا اَعْمَالَهُمْۗ
Tanwin (dhammahtain) bertemu dengan huruf mim di QS Al Bayyinah : 2
رَسُوْلٌ مِّنَ اللّٰهِ يَتْلُوْا صُحُفًا مُّطَهَّرَةًۙ
kesalahan yang sering terjadi saat membaca idgham bighunnah
Saudaraku seiman dan seagama, perlu diketahui bahwa, hukum idgham bighunnah itu dipecah lagi menjadi dua hukum. Yakni; idgham bighunnah kamil dan idgham bighunnah naqis. Adapun rujukannya ada di kitab Maysura (Dr. H. Ahmad Fathani, Lc, MA).
Idgham Bighunnah Kamil : Yaitu ketika nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf; Nun atau Mim. Artinya dengungnya itu menyeluruh dengan sempurna sepanjang dua harakat tempo lambat.
Kalau di Mushaf Indonesia disertai tasydid tujuannya memudahkan orang awam bahwa itu membacanya harus ditekan. Kalau Mushaf Madinah tidak disertai tasydid karena pada dasarnya dibaca seperti ada tasydid karena disebut kamilul ghunnah.
Contoh dan cara baca :
رَسُوْلٌ مِّنَ اللّٰهِ
ketika ada nun sukun atau tanwin bertemu mim maka dengungnya itu harus sempurna kamilul ghunnah. Kesalahan yang sering terjadi, mereka membaca hanya sebatas tasydid (ditekan) namun tidak disertai dengung (ditahan) dua harakat tempo lambat. Begitupun apabila ketemu \’Nun\’ cara bacanya harus sama ditahan dua harakat tempo lambat.
Idgham Bighunnah Naqis : Yaitu apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu dari dua huruf; Ya atau Wau. Membacanya harus dengung/ditahan dua harakat tempo lambat namun kedua bibir tidak terkatup.
Contoh dan cara baca :
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ
Di atas terlihat jelas ada nun mati bertemu dengan ya`, namun ya-nya tidak bertasydid karena merupakan Mushaf Madinah. Sedangkan di Al quran Indonesia disertai tasydid tujuannya untuk memudahkan orang awam kalau membacanya harus ditekan (tasydid), namun fatal bila ditekan tanpa ditahan 1 alif tempo lambat!
Cara baca yang salah adalah; ketika teman-teman membacanya hanya fokus tasydid tetapi tidak disertai dengung. Padahal, perintahnya sudah jelas, meleburkan bacaan yang disertai ghunnah dua harakat tempo lambat.
Pembaca budiman yang dirahmati Allah Swt. Mari kita sama-sama untuk meningkatkan kualitas ibadah kita. Salah satunya memperbaiki kualitas bacaan Quran kita.















