Belajar ngaji ayat tentang Ridha dengan ketetapan Tuhan merupakan lanjutan dari artikel sebelunnya (makna Ikhlas) yang fokus bagaimana cara memperoleh nilai keikhlasan hakiki. Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu ikhlas dan ridha dengan ketetapan yang Allah berikan. Karena Allah hanya mengukur derajat takwanya dari setiap hamba-Nya.
Belajar Ngaji Ayat Tentang Ridha Dengan Ketetapan Allah
Yuk selain tadabur ayat, teman-teman juga sisihkan waktu untuk belajar ngaji mempelajari tajwid (bersama ahlinya) di ayat-ayat berikut. InsyaAllah ada 4 yang akan kita bahas bersama.
Pertama, QS [25] : 2
اۨلَّذِىۡ لَهٗ مُلۡكُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَلَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّلَمۡ يَكُنۡ لَّهٗ شَرِيۡكٌ فِى الۡمُلۡكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَىۡءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقۡدِيۡرًا
“Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.”
*Penjelassan*
Ringkasnya segala sesuatu dalam alam ini baik di langit maupun di bumi adalah makhluk-Nya. Allah itu sebaik-baik pencipta tanpa sekutu dan hanya satu-satunya tempat mengabdi bersujud sembah simpuh dan semua berada dalam atmosfer-Nya.
So, Janganlah sekali-kali terbayang atau terlintas dalam pikiran manusia bahwa Tuhan mempunyai anak atau mempunyai sekutu.
Kedua, QS [64] : 11
مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰهِؕ وَمَنۡ يُّؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ يَهۡدِ قَلۡبَهٗؕ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ
“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Baca juga: Berikut Para Pengajar Quran Mumpuni
*Penjelasan*
Kunci sukses dalam hidup ialah ikhlas, Ridha, legowo apapun hasilnya. Cukup ikhtiar dalam kebaikan, berdoa baik keadaan lapang maupun sempit, dan berbagilah terhadap sesama. Yakinlah sedikit banyaknya itulah perberian Maha Agung.
Ibnu Abbas menafsirkan bahwa Allah memberikan kepada orang mukmin dalam hatinya suatu keyakinan. Begitu bila kita tertimpa musibah hendaknya mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji\’un dan bersabarlah!
Ketiga, QS 4 : 79
مَاۤ اَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَصَابَكَ مِنۡ سَيِّئَةٍ فَمِنۡ نَّـفۡسِكَ ؕ وَاَرۡسَلۡنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوۡلًا ؕ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيۡدًا
“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.”
*Penjelasan*
Dari segi adab, hendaknya kita mengatakan hal-hal yang baik, tindakan yang baik hanya dari Allah semata. Adapun Malapetaka yang menimpa seseorang itu hendaklah dikatakan datangnya dari dirinya sendiri, mungkin pula karena disebabkan kelalaiannya atau kelalaian orang lain apakah dia saudara, sahabat atau tetangga.
Keempat, QS 57 : 22-23
مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ فِى الۡاَرۡضِ وَلَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اِلَّا فِىۡ كِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡـرَاَهَا ؕ اِنَّ ذٰ لِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيۡرٌۚ
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”
لِّـكَيۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰى مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمۡؕ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۙ
“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,”
Murokabatullah bil Amal (beribadah kepada Allah seolah melihat Allah, kalaupaun tidak melihat Allah, Allah yang melihat kita) Perbaiki konsentrasi dalam menghadap Allah Swt, tujuannya agar apa yang kita sampaikan tertuju dan Allah membuka jalan pikiran hati dan tindakan (apa yang Allah arahkan).
Kemudian agar ikhlas dan Ridha dalam beramal hendaklah memohon kepada Allah Swt. Minta ikhlas kepada Allah karena keikhlasan bagian dari taufik serta hidayah Allah Swt. Kemudian takutlah dengan amal yang gugur (akibat level keikhlasannya).















